TRANSMISI TARI PODANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAK BENDA DI NAGARI KOTO NAN GADANG KOTA PAYAKUMBUH PROVINSI SUMATERA BARAT

Authors

  • Ayu Maharani Institut Seni Indonesia Padangpanjang
  • Muhammad Fikri Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Kota Padangpanjang, Indonesia
  • Auliana Mukhti Maghfirah Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Kota Padangpanjang, Indonesia
  • Suaida Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Kota Padangpanjang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.596

Keywords:

Transmisi Budaya, Tari Podang, Warisan Budaya Tak Benda.

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transmisi Tari Podang sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, serta mengidentifikasi hambatan dalam keberlanjutannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara bersama pihak Dinas Pariwisata, masyarakat, penari, serta dua maestro Tari Podang, yaitu Bapak Dt. Lelo Sati dan Bapak Dt. Bijo Nan Hitam. Data sekunder dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumen kebudayaan terkait.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses transmisi Tari Podang di Sanggar Puti Elok berlangsung melalui empat jalur utama. Pertama, transmisi vertikal secara antargenerasi dari maestro ke murid. Kedua, transmisi material dan simbolik berupa pemenuhan syarat adat seperti bareh sagantang, sakabuang kain putiah, pitih sapiek, dan ritual darah ayam sebagai pengikat komitmen moral. Ketiga, transmisi praktik tubuh melalui metode demonstrasi dan peniruan gerak silat baku. Keempat, transmisi institusional melalui pengelolaan sanggar seni.Meskipun telah resmi ditetapkan sebagai WBTB Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 315/M/2023, proses regenerasi tarian ini menghadapi hambatan serius. Faktor internal berupa ketatnya aturan pakem, keharusan menguasai kuda-kuda rendah (stralak), penggunaan properti pedang, serta keterbatasan jumlah pewaris utama membuat tarian ini terkesan monoton bagi generasi muda. Faktor eksternal seperti pergeseran selera seni remaja ke arah modern, gempuran tren digital, serta belum meratanya pengetahuan masyarakat Payakumbuh turut memperlambat perluasan ilmu. Untuk mengatasinya, sanggar melakukan strategi adaptasi dengan membuka akses bagi penari perempuan demi menjaga keberlanjutan tradisi agar tidak punah.

References

Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Barker, C. (2004). Cultural studies: Theory and practice (2nd ed.). London: Sage Publications.

Edinon, G. A. (2021). Bentuk pertunjukan Tari Podang di Nagari Koto Nan Gadang. Padangpanjang: Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Edinon, G. A. (2022). Nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan Tari Podang di Nagari Koto Nan Gadang. Padangpanjang: Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Elvandari, E. (2020). Sistem pewarisan sebagai upaya pelestarian seni tradisi. Jurnal Seni dan Budaya, 5(2), 85–97.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York: Basic Books.

Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford, CA: Stanford University Press.

Hasan, M. I. (2002). Pokok-pokok metodologi penelitian dan aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Hasanah. (2017). Teknik-teknik observasi dalam penelitian kualitatif. Jurnal at-Taqaddum, 8(1), 21–46.

Hasibuan, A., dkk. (2021). Transmisi budaya dalam masyarakat multikultural. Jurnal Antropologi Indonesia, 42(1), 72–79.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications.

Hobsbawm, E., & Ranger, T. (Eds.). (1983). The invention of tradition. Cambridge: Cambridge University Press.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 315/M/2023 tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kemendikbudristek.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Merriam, A. P. (1964). The anthropology of music. Evanston, IL: Northwestern University Press.

Murni, J. S., & Rupa. (2015). Tari Podang sebagai warisan budaya masyarakat Payakumbuh. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 17(1), 89–103.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

Artikel. (2025). Transmisi seni tradisi Picak Khakot di Kabupaten Tanggamus, Lampung. (Lengkapi nama jurnal, volume, nomor, dan halaman).

Andriyanto, I., & Utami, G. N. (2026). Pola transmisi dalam regenerasi kesenian Kethek Ogleng di Kabupaten Wonogiri. (Lengkapi nama jurnal, volume, nomor, dan halaman).

Pemerintah Kota Payakumbuh. (2023). Warisan budaya Kota Payakumbuh. Payakumbuh: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Payakumbuh.

Downloads

Published

2026-07-13

How to Cite

Maharani, A., Muhammad Fikri, Auliana Mukhti Maghfirah, & Suaida. (2026). TRANSMISI TARI PODANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAK BENDA DI NAGARI KOTO NAN GADANG KOTA PAYAKUMBUH PROVINSI SUMATERA BARAT. EZRA SCIENCE BULLETIN, 4(2), 655–669. https://doi.org/10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.596