MENYUTRADARAI FILM FIKSI A STORY ABOUT FATHER AND DAUGHTER DENGAN GAYA SINEMA SUREALIS UNTUK MEMBANGUN PERBEDAAN ALAM

Authors

  • Raja Aldi Prayoga Institut Seni Indonesia Padangpanjang
  • Zainal Abidin Institut Seni Indonesia Padangpanjang

DOI:

https://doi.org/10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.428

Keywords:

Sutradara, Sinema Surrealis, Perbedaan Alam, Mise-en-Scène, Film A Story About Father and Daughter: Kalau Tidak Hari Ini Mungkin Saja Nanti

Abstract

Sutradara dalam sebuah film adalah pemimpin kreatif utama yang bertanggung jawab atas pengarahan artistik dan visual keseluruhan produksi. Skenario A Story about Father and Daugther: Kalau Tidak Hari Ini Mungkin Saja Nanti digarap dengan menggunakan gaya sinema sureallis untuk membangun perbedaan antara alam ruh, alam nyata, dan alam baka. Gaya sinema surrealis dipilih karena kemampuannya dalam menggambarkan dunia yang tidak logis dan melampaui kenyataan sehari-hari. Film ini mengeksplorasi perjalanan emosional seorang Ayah melewati berbagai alam yang menggambarkan tahap-tahap kehidupan manusia, dari alam ruh, dunia, hingga alam baka. Dalam proses penciptaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan mise-en-scene untuk merancang visual yang mencerminkan perbedaan karakteristik masing-masing alam. Elemen-elemen seperti pencahayaan, kostum, dan set dirancang secara khusus untuk mempertegas batas antara realitas dan imajinasi. Selain itu, penelitian ini juga mengacu pada teori perbedaan alam yang diambil dari literasi filosofis dan spiritual, yang kemudian diinterpretasikan ke dalam visual film. Merujuk kepada landasan teori yang digunakan pada film ini, dapat dinilai ketercapaian penggunaan gaya sinema surreallis untuk membangun perbedaan alam secara keseluruhan dapat dicapai meskipun ada beberapa bagian yang secara unsur surreallis belum terlalu mencolok.

References

Al-Qur’an. (n.d.). Surah Al-Hajj [22]: 5, Surah Al-A’raf [7]: 172, Surah At-Taubah [9]: 72.

(Terjemahan Kementerian Agama RI).

Bordwell, D., & Thompson, K. (2008). Film art: An introduction (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

Breton, A. (1972). Manifestoes of surrealism (R. Seaver & H. R. Lane, Trans.). University of Michigan Press.

Freud, S. (1990). The interpretation of dreams (A. A. Brill, Trans.). New York: Avon Books.

Harymawan. (1988). Pengantar teater. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Katz, S. D. (1991). Film directing shot by shot: Visualizing from concept to screen. Studio City, CA: Michael Wiese Productions.

Peter, W. (1968). The art of film. London: Penguin Books.

Salastianto, H. (1992). Teori dan estetika film. Jakarta: Pusat Pengembangan Perfilman, Departemen Penerangan RI.

Referensi Film

Gondry, M. (Director). (2004). Eternal sunshine of the spotless mind [Film]. Focus Features.

Malick, T. (Director). (2011). The tree of life [Film]. Fox Searchlight Pictures.

Nolan, C. (Director). (2014). Interstellar [Film]. Paramount Pictures.

Downloads

Published

2025-08-06

How to Cite

Prayoga, R. A., & Abidin, Z. (2025). MENYUTRADARAI FILM FIKSI A STORY ABOUT FATHER AND DAUGHTER DENGAN GAYA SINEMA SUREALIS UNTUK MEMBANGUN PERBEDAAN ALAM. EZRA SCIENCE BULLETIN, 3(2), 1645–1651. https://doi.org/10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.428